Purple Prince

Purple Prince

Kamis, 02 September 2010

Ulang Tahun Buat Islam

Apa yang terbayang di pikiran Anda saat ada yang mengucapkan kata 'Ulang Tahun'? Hampir pasti, disana ada kue bundar, lilin menyala diatas atau dipinggirnya, lalu orang yang merayakan ulang tahun meniup lilin itu, dan teman-temannya bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu 'Happy Birthday' atau 'Selamat Ulang Tahun'. Darimana tradisi ini bermula? Mengapa begitu mengakar hingga para anak dan remaja Islam ikut-ikutan merayakannya?

Entah siapa pencetusnya, kapan dimulai dan bagaimana awal mulanya, 'sanad'nya tidak jelas, 'matan'nya pun simpang siur. Tapi literatur yang paling populer menghubungkan tradisi ulang tahun dengan kaum pagan (penyembah berhala) di zaman Yunani Kuno.

Konon, mereka dahulu mempersembahkan kue mereka ke Artemis, yang diyakini sebagai Dewi Bulan. Karenanya, kue dibuat bundar seperti bulan purnama. Sedangkan lilin-lilin diletakkan di atasnya untuk membuat kue tersebut terlihat terang menyala seperti bulan. 'Tafsiran' lain menyebutkan bahwa lilin-lilin itu melambangkan bintang-bintang yang mengitari bulan. Ada juga yang menyebutkan bahwa itu adalah simbol terangnya kehidupan.

Segudang mitos sesat juga menyertai perayaan ulang tahun. Asap dari lilin yang konon akan membawa penghargaan mereka ke surga. Cara meniup semua lilin dalam satu nafas yang jika bisa padam semua, konon menjadi pertanda keinginannya akan terkabul, dan orang tersebut diyakini akan memperoleh nasib yang baik di tahun mendatang.

Ada juga mitos, bahwa memakan cake roti yang dibentuk kata-kata yang ada diatas kue ultah, maka akan menjadi kenyataan. Maka biasanya ada tulisan 'Happy Birthday' diatas kue yang kemudian menjadi rebutan karena diyakini akan membawa keberuntungan.

Sejarah asal usul maupun penafsiran diatas bisa saja salah, tapi tidak mungkin ritual ulang tahun yang dirayakan secara turun temurun itu hanya sekedar kebetulan atau iseng semata, tanpa adanya pesan-pesan simbolik.

Yang pasti, asal usulnya bukan dari Islam, ritualnya bukan ciri khas Islam, bahkan hampir bisa dipastikan itu merupakan tradisi musyrikin penyembah berhala. Jikalau ada yang memodifikasi ulang tahunnya dengan menyisipkan pesan atau simbol Islam seperti diawali dengan dzikir, sebelum meniup lilin berdoa, atau tambahan kata-kata Arab, maka tidak lantas merubah statusnya menjadi tradisi yang menjadi ciri khas suatu kaum yang diingatkan oleh Nabi, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka". (HR Abu Dawud).

Maka menyerupai ciri khas penyembah berhala, wal 'iyadzu billah.

Dikutip dari Majalah Islam Ar risalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar